Dehidrasi : Tampak Sepele, Padahal Bisa Berakibat Fatal - Dehidrasi merupakan kondisi ketika tubuh kehilangan cairan lebih banyak dibandingkan dari yang dikonsumsi. Kondisi ini dibedakan menjadi tiga tahapan: dehidrasi ringan dan sedang yang dapat segera diperbaiki dengan mengkonsumsi lebih banyak cairan. Lalu, ada dehidrasi berat yang memerlukan penanganan dari medis.

Yang menjadi masalah, dehidrasi seringkali disepelekan dan dianggap tidak memiliki efek samping membahayakan. Gejalanya pun sering kali tak terdeteksi. Rasa haus tak bisa selalu dijadikan tolok ukur dehidrasi. Banyak orang bisa tidak merasakan haus, sampai mereka mengalami periode berat dehidrasi, seperti yang dialami banyak anak muda di zaman sekarang.

Dehidrasi sebenarnya tak memerlukan perawatan lama apabila terdeteksi dini. Gejalanya, dapat dikenali dengan mudah lewat warna urine. Semakin pekat warna urine yang dikeluarkan, berarti tubuh semakin kekurangan cairan.

Gejala lain dehidrasi adalah haus ekstrem, kelelahan, pusing, dan disorientasi. Pada bayi dan anak kecil, tanda-tandanya bisa dikenali dari mulut dan lidah yang kering. Lazimnya, mereka juga tak mengeluarkan air mata saat menangis. Dalam waktu tiga jam, popoknya belum basah. Juga ada cekungan di mata dan pipi, serta terlihat lesu dan iritasi. 
Dehidrasi Bisa Sebabkan Komplikasi Serius " Sekitar 60 persen tubuh terdiri dari air. Mereka berfungsi sebagai pengatur suhu, pembentuk sel, pelarut, media transportasi, media eliminasi toksin, pelumas dan bantalan ".

Dokter di indonesia, ataupun kita sendiri mengatakan air sebagai komponen penting dalam tubuh. Jika komposisinya terganggu, maka dapat dipastikan, sistem tubuh tak akan lagi berjalan normal seperti seharusnya. Pada saat kondisi berat, dehidrasi membuat otot berkontraksi, tekanan darah menurun, napas cepat, dan bisa kejang hingga hilang kesadaran, tetapi ada juga dari kita di indonesia yang sering kelalaian dengan hal tersebut.

Selain itu, dalam keadaan kekurangan cairan berat, tubuh akan terkena serangan panas/demam. Masalah ini bisa berkembang juga menjadi infeksi saluran kemih, batu ginjal, gagal ginjal, dan bahkan syok hipovolemik. Yang disebut terakhir adalah kondisi darurat ketika jantung tidak mampu memasok darah yang cukup ke seluruh tubuh akibat kurangnya volume darah.

Bahwa dehidrasi bisa membuat jaringan otak menyusut serta meningkatkan volume pemompaan jantung. Peneliti mengamati pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) pada 10 remaja sehat berusia rata-rata 16 tahun yang diminta melakukan aktivitas fisik. Hasilnya menunjukkan aktivitas metabolik otak tidak efisien setelah mengalami dehidrasi. Jika asupan air terus berkurang, fungsi eksekutif seperti perencanaan dan pengolahan visuo-spasial juga akan menurun.


Kelompok yang rentan mengalami dehidrasi adalah bayi, anak-anak, orang tua, individu dengan penyakit kronis, dan individu dengan kerja berat. Bayi dan anak-anak menjadi kelompok rentan karena belum bisa menginformasikan rasa haus mereka secara verbal. 

Orang tua rentan terkena dehidrasi karena cadangan cairan tubuh semakin sedikit seiring bertambahnya umur. Kondisi ini diperparah masalah mobilitas yang membatasi kemampuan mereka untuk mengambil air minum.
Untuk mencegah kondisi ini, langkah yang paling mudah adalah menjaga asupan cairan dalam tubuh. Caranya adalah mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak air seperti buah dan sayuran. Asupan cairan juga harus ditambah jika mengalami kondisi seperti muntah atau diare, sedang dalam olahraga berat, cuaca panas atau dingin, dan sakit.

Jika Anda merasa repot untuk mengingat kapan waktu yang tepat untuk mengkonsumsi air putih , Catatlah cara yang lebih mudah yaitu: " Minum 8 gelas air per hari."