Tawa Sebagai Terapi Dan Tawa Menjadi Fobia - Tertawa adalah hal yang sangat wajar / umum terjadi, bahkan seluruh masyakarat di indonesia pernah tertawa. Ini merupakan hal yang sangat tidak bisa dihindarkan, dan suruh terbawa secara alamiah. bahkan dijaman sekarang banyak orang yang membuat meme dan disebarkan melalui media sosial lainnya. Meme editan tersebut beredar viral di kalangan netizen. Satu alasan utama yang membuat meme ini begitu laku di masyarakat dunia maya adalah karena mereka mendapat bahan konyol untuk ditertawakan bersama-sama.
Namun tawa memang sangat serius! Bagaimana tidak serius, tertawa menurut sejumlah penelitian bahkan dianggap sebagai penyembuh untuk manusia. Jadi, berbahagialah bagi yang gemar tertawa, apalagi jika mampu menertawakan diri sendiri.
Tertawa adalah komponen vital untuk menjalankan fungsi sosial dan emosional dalam beradaptasi. Tawa tidak hanya dilakukan manusia, namun juga pada golongan kera dan primata. Hal ini juga yang dipercaya bisa membantu mereka bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Karena tertawa adalah kegiatan komunal yang menghadirkan ikatan dan menekan potensi munculnya konflik dalam sebuah komunitas, bagi manusia hingga primata.
Selain itu, tertawa juga memiliki kekuatan menyingkirkan emosi-emosi lain, meski hanya sesaat. Siapa pun tidak bisa marah sambil tertawa, atau juga tidak sesenggukan sembari tertawa. Hal ini dikarenakan, ketika tertawa otot wajah dan suara vokal akan terbentuk sedemikian rupa untuk menghasilkan ekspresi khas yang tidak sama dengan ekspresi yang lain. Semua proses itu dikendalikan sirkuit otak yang secara khusus membawa pesan kimia atau yang dikenal dengan istilah neurotransmitter.
Peningkatan imunitas atau kekebalan tubuh terjadi karena adanya transmisi hormon kortisol di otak ketika tertawa. Hormon kortisol ini yang berperan dalam imunitas/kekebalan tubuh dari penyakit.
Ada beberapa bagian otak yang mempunyai tanggungjawab khusus ketika seseorang tertawa. Saat tertawa, diproduksi juga hormon endorphin dan serotonin . Jenis-jenis hormon yang menciptakan rasa senang. Terapi tawa bahkan terbukti berfungsi sama dengan antidepresan. Kerjanya dengan cara meningkatkan kadar serotonin di otak. Serotonin adalah neurotransmiter penting untuk perasaan sehat dan tenang.
Secara klinis, perkara tertawa tidak berhenti pada hal-hal euforia semata. Terdapat sejumlah kondisi yang membuat otak menjadi tidak nyaman dengan proses tertawa ini. Dalam hal ini, pembahasan tertawa akan melibatkan dua kelompok subjek: mereka yang tertawa dan mereka yang ditertawakan.
Ketidaknyamanan ini dikenal dalam dua istilah, gelatophilia dan gelatophobia. Gelatophilia sendiri merupakan kesenangan menjadi orang yang ditertawakan, sedangkan gelatophobiia adalah perasaan sangat takut ditertawakan. Kemarahan, atau pengaduan, karena orang lain menertawakan kita boleh jadi merupakan bentuk kecemasan ekstrem akibat gelatophobia.
Bagi mereka, tawa bisa menjadi hal yang sangat mengganggu, mencemaskan, bahkan menggentarkan. Tawa, lebih tepatnya lagi ditertawakan, bagi mereka sungguh-sungguh situasi yang bukan hanya tak dikehendaki melainkan bahkan bisa memicu fobia.











0 Komentar